Sabtu, 24 Maret 2012

Lasem, Tiongkok Kecil Dari Tanah Jawa

posted by: Dunia Andromeda
Berjuluk kota Santri, Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia dan merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang. Lasem dikenal juga sebagai "Tiongkok kecil", karena merupakan kota awal pendaratan orang-orang Tionghoa di tanah Jawa.

Lasem yang berada di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, juga berada di jalur bersejarah. Daerah ini berada di Pantai Utara Jawa dan dilintasi Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Rumah-rumah kuno bergaya indische berdiri kokoh di pinggir Jalan Raya Pantura yang berdebu. Tapi, jika memasuki jalan-jalan kecil yang mengarah ke perkampungan di belakangnya, Anda akan melihat deretan tembok-tembok tinggi dengan cat putih yang telah memudar. Di balik tembok-tembok itulah berdiri rumah-rumah tua bergaya peranakan yang semakin menegaskan julukan Lasem sebagai Tiongkok Kecil.
Deretan tembok tinggi yang memagari rumah-rumah tua bergaya peranakan
Deretan tembok tinggi yang memagari rumah-rumah tua bergaya peranakan

Bangunan di Kota Lasem

Sebagian besar rumah-rumah itu telah kosong dan dibiarkan tak terurus. "Penghuninya banyak yang sudah pindah ke kota besar, seperti Surabaya,

Tempat ini mengingatkan pada Kampung Laweyan di Solo. Dan, sama seperti Solo, sejak dahulu Lasem juga dikenal sebagai sentra pengrajin batik. Berawal ketika Syahdan, seorang putri dari Champa, bernama Na Li Ni mendarat di Pantai Regol, suatu daerah yang sekarang termasuk kawasan Lasem. Ia kemudian menetap dan mengajari putra-putrinya serta para pemudi di sana menari dan membatik. Riwayatnya tertuang dalam Serat Badra Santi yang berangka 1479. Orang-orang Lasem meyakini Na Li Ni lah yang berperan dalam mengembangkan batik Lasem pada mulanya.

Batik Lasem
Ibu-ibu paruh baya tengah membatik
Ibu-ibu paruh baya tengah membatik


Batik Lasem

Sejarah Batik Lasem memiliki hubungan erat dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413. Babad Lasem karangan Mpu Santri Badra di tahun 1401 Saka ( 1479 M,), yang ditulis ulang oleh R Panji Kamzah tahun 1858 menyebutkan, ketika itu anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di Bonag setelah melihat keindahan alam Jawa

Di tempat mukim baru ini, Na Li Ni mulai membatik bermotifkan burung hong, liong, bunga seruni, banji, mata uang dan warna merah darah ayam khas Tiong Hwa. Dan sampai sekarang motif ini masih menjadi ciri khas unik Batik Lasem.

Keunikan Batik Lasem itu mendapat tempat penting di dunia perdagangan. Pedagang antar pulau dengan kapal kemudian mengirim Batik Lasem ke seluruh wilayah Nusantara. Bahkan diawal abad XIX Batik Lasem sempat diekspor ke Thailand dan Suriname. Batik Lasem memasuki masa kejayaan.

Pada batik Lasem, warna adalah salah satu hal yang paling menonjol dan menjadi ciri khas yang jarang ditemui pada batik dari daerah lain. Warna batik Lasem dipengaruhi dan didominasi oleh warna-warna berani khas pesisir yaitu kombinasi merah, kuning, biru, dan hijau.

Cu An Kiong, keleteng tertua di Pulau Jawa
duniaandromedaku.blogspot.com - Lasem, Tiongkok Kecil dari Tanah Jawa
Cu An Kiong, keleteng tertua di Pulau Jawa

Cu An Kiong, keleteng tertua di Pulau Jawa

Lukisan di dinding Kelenteng Cu An Kiong
Lukisan di dinding Kelenteng Cu An Kiong

Pengaruh budaya Tionghoa juga terlihat pada kelenteng-kelenteng yang berada di Lasem. Cu An Kiong adalah keleteng tertua di Pulau Jawa yang diperkirakan dibangun pada abad ke-15. Bagian mukanya nampak serupa dengan bangunan kelenteng pada umumnya, kecuali adanya dua patung singa yang menunjukkan pengaruh Eropa.
Memasuki bagian dalam, tampak bahwa Cu An Kiong adalah salah satu kelenteng tercantik di Indonesia. Dindingnya dilapisi lukisan yang kusam karena termakan usia, tetapi kecantikannya tak pernah pudar. Langit-langit dan pilarnya terbuat dari kayu yang penuh dengan ukiran ornamen Cina. Konon, tukang-tukang dari Guangdong khusus didatangkan untuk membuat ukiran di kelenteng ini.

Di altar utama kelenteng terdapat Makco Thian Siang Sing Bo yang merupakan Dewa Pelindung Laut. Kehidupan pesisir masyarakat Lasem ditunjukkan dengan penghormatan kepada Dewa Laut. Terdapat pula kio, tandu untuk membawa Makco Thian Siang Sing Bo dalam kirab yang diukir dengan sangat halus dan masih terawat baik. Sekadar informasi, pada 21-22 April 2012, kelenteng akan kembali menyelenggarakan Kirab Akbar.
Hamparan lahan sawah di Desa Tuyuhan
Hamparan lahan sawah di Desa Tuyuhan
Agak menjauh dari keramaian lalu lintas Pantura, melewati hamparan lahan sawah yang diselingi perkebunan tebu di bawah kaki Pegunungan Lasem, ada Desa Tuyuhan. Di desa ini terkenal dengan khas kuliner ciri Lasem, lontong tuyuhan yang disajikan dengan opor ayam kampung.
duniaandromedaku.blogspot.com - Lasem, Tiongkok Kecil dari Tanah Jawa


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...